Hai diariku, aku ingin mencurahkan rasa gundahku dan sedikit aku ceritakan kisah ku
saat ini aku berusia 24 tahun dengan keadaan hidup yang terbilang cukup namun tak sebanding dengan kebutuhanku, aku sudah menikah 2 tahun yang lalu dan itu merupakan awal dari semua kehancuran hatiku. Sebenarnya aku merasa bahagia, aku sudah punya wanita dan sekarang aku sudah punya anak, namun entah kenapa kebahagiaan ku masih terasa kosong seakan-akan hanya bahagia yang tak bisa aku genggam sepenuhnya.yang aku rasa istri dan anak ku hanya sebuah balutan kebahagiaan yang tidak utuh. aku tau aku salah merasa seperti itu tapi hati ini ga bisa di paksakan untuk bahagia, dan akhirnya aku selalu mencari kebahagiaanku sendiri di luar rumah, menikmati kesendirianku dan menikmati berkumpul bersama teman-temanku. Namun walaupun aku seperti itu aku tetap bertanggung jawab atas keluargaku, aku tetap memberikan apa yang mereka butuhkan ya walaupun tidak semua yang aku bisa turuti. aku sadar kelakuanku pasti akan menyakiti istriku karena dia merasakan kasih sayang yang kurang dariku, tapi aku harus bagaimana ? aku ga pernah tau apa yang harus aku lakukan lagi dengan hatiku.
dengan kelakuanku yang seperti itu memang bukan tanpa alasan, jujur aku tidak mencintai istriku, andaikan ada hanya sedikit porsinya, hatiku seakan-akan mati untuk mencintai istriku sendiri, aku pernah mencintai seseorang yang mungkin tidak pernah mencintaiku sama sekali tapi hatiku terlanjur aku perttaruhkan untuk dia, aku sering menyukai gadis cantik tapi tetap saja hatiku ga bisa sebahagia saat aku dekat dengan dia, hatiku ga pernah sebahagia seperti saat aku bisa memandang jelas wajahnya dan senyum indahnya, dan sekarang pelampiasanku menikah dengan orang lain hanya membuat aku semakin sakit dan semakin ga tau harus berbuat apa dan seakan rasa penyesalanku semakin hari semakin besar, dan tidak bisa aku gantikan dengan apapun. ribuan kali bahkan mungkin jutaan kali aku ingin menepis semua rasa cintaku untuknya tapi tetap saja hanya seperti menambah kecintaanku padanya, dan bahkan aku masih berdoa di tengah kesakitanku agar aku bisa menjalani hidup bersamanya betapa jahatnya aku terhadap istriku sendiri dengan doaku yang seperti itu, tapi saat aku diam dan aku biarkan rasa cinta itu seakan mengalir deras di setiap aliran darahku dan selalu melayang di setiam inci fikiranku. sampai saat ini aku masih memikirkan dia dan mungkin aku tak akan pernah bisa melupakan setiap detik dan setiap kenangan yang pernah aku lalui bersama walaupun dia ga pernah jadi milikku. aku ingin ikhlas dengan kenyataan ini, namun saat aku berusaha ikhlas semakin menagis pula hatiku, terkadang aku mempunyai niat untuk meninggalkan istriku namun aku sadar aku bukan orang yang dia inginkan di dunia ini, aku bukan orang yang dia impikan selama ini, dan sekarang aku berusaha menikmati setiap detik dari sakitku ini, setiap detik kenangan yang aku simpan dan setiap senyuman yang dia berikan untuk ku. aku sangat mencintainya dan aku hanya berharap dia selalu bahagia, dan akan ku persiapkan hatiku untuk menerima kenyataan bahwa akan ada kesakitan yang jauh lebih sakit untuk hatiku karena cintaku ini.
saat ini aku berusia 24 tahun dengan keadaan hidup yang terbilang cukup namun tak sebanding dengan kebutuhanku, aku sudah menikah 2 tahun yang lalu dan itu merupakan awal dari semua kehancuran hatiku. Sebenarnya aku merasa bahagia, aku sudah punya wanita dan sekarang aku sudah punya anak, namun entah kenapa kebahagiaan ku masih terasa kosong seakan-akan hanya bahagia yang tak bisa aku genggam sepenuhnya.yang aku rasa istri dan anak ku hanya sebuah balutan kebahagiaan yang tidak utuh. aku tau aku salah merasa seperti itu tapi hati ini ga bisa di paksakan untuk bahagia, dan akhirnya aku selalu mencari kebahagiaanku sendiri di luar rumah, menikmati kesendirianku dan menikmati berkumpul bersama teman-temanku. Namun walaupun aku seperti itu aku tetap bertanggung jawab atas keluargaku, aku tetap memberikan apa yang mereka butuhkan ya walaupun tidak semua yang aku bisa turuti. aku sadar kelakuanku pasti akan menyakiti istriku karena dia merasakan kasih sayang yang kurang dariku, tapi aku harus bagaimana ? aku ga pernah tau apa yang harus aku lakukan lagi dengan hatiku.
dengan kelakuanku yang seperti itu memang bukan tanpa alasan, jujur aku tidak mencintai istriku, andaikan ada hanya sedikit porsinya, hatiku seakan-akan mati untuk mencintai istriku sendiri, aku pernah mencintai seseorang yang mungkin tidak pernah mencintaiku sama sekali tapi hatiku terlanjur aku perttaruhkan untuk dia, aku sering menyukai gadis cantik tapi tetap saja hatiku ga bisa sebahagia saat aku dekat dengan dia, hatiku ga pernah sebahagia seperti saat aku bisa memandang jelas wajahnya dan senyum indahnya, dan sekarang pelampiasanku menikah dengan orang lain hanya membuat aku semakin sakit dan semakin ga tau harus berbuat apa dan seakan rasa penyesalanku semakin hari semakin besar, dan tidak bisa aku gantikan dengan apapun. ribuan kali bahkan mungkin jutaan kali aku ingin menepis semua rasa cintaku untuknya tapi tetap saja hanya seperti menambah kecintaanku padanya, dan bahkan aku masih berdoa di tengah kesakitanku agar aku bisa menjalani hidup bersamanya betapa jahatnya aku terhadap istriku sendiri dengan doaku yang seperti itu, tapi saat aku diam dan aku biarkan rasa cinta itu seakan mengalir deras di setiap aliran darahku dan selalu melayang di setiam inci fikiranku. sampai saat ini aku masih memikirkan dia dan mungkin aku tak akan pernah bisa melupakan setiap detik dan setiap kenangan yang pernah aku lalui bersama walaupun dia ga pernah jadi milikku. aku ingin ikhlas dengan kenyataan ini, namun saat aku berusaha ikhlas semakin menagis pula hatiku, terkadang aku mempunyai niat untuk meninggalkan istriku namun aku sadar aku bukan orang yang dia inginkan di dunia ini, aku bukan orang yang dia impikan selama ini, dan sekarang aku berusaha menikmati setiap detik dari sakitku ini, setiap detik kenangan yang aku simpan dan setiap senyuman yang dia berikan untuk ku. aku sangat mencintainya dan aku hanya berharap dia selalu bahagia, dan akan ku persiapkan hatiku untuk menerima kenyataan bahwa akan ada kesakitan yang jauh lebih sakit untuk hatiku karena cintaku ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar